- Back to Home »
- One Message
Posted by : Rossy
Selasa, 09 Juni 2015
Saat
kalian keluar dari pintu itu, hidup”ku” dan hidup”nya” saling
berketergantungan. Aku hanya punya dia,
begitu pula sebaliknya. Jika kalian merasa meninggalkan kami hanya dalam
beberapa menit. Kami merasa ditinggal kan selama 5-6 tahun. Hal paling mengerikan
yang dapat aku ingat hanya saat pintu itu tertutup bersama bayang-bayang
kalian. Malam itu kami berdua tidur didepan semak belukar berharap pintu itu
akan terbuka lagi. Tapi, sampai dua hari pun tidak ada tanda tanda pintu itu
terbuka. Kami kelaparan. Akhirnya kami berniat mencari makanan seadanya dan
kembali. Kami memutari hutan hutan, tanpa tahu apa yang sedang dicari. Jiwa kekanakan ku mulai memberontak, aku
menangis. Aku hanya ingin pulang.
Dia,
sebut saja namanya Alvin (aku tidak terlalu suka menyebutkan nama saat
membicarakan seseorang, haha) kalian tahu siapa yang aku maksud ‘kan? Kadang
menghiburku, kadang memarahiku, tapi lebih sering marah. Selalu mengatakan
“Wah.. ini hanya sementara, semua baik baik saja” padahal aku tahu persis, dalam
hatinya sangat lah kacau.
Kami
mencari sesuatu yang layak dimakan, saat kami melihat sungai jernih diujung kanan penglihatan kami,
bersorak sorak lah kami saking gembiranya. Aku berlarian kecil mengikuti Alvin
yang telah lebih dulu berlari, sesekali ia menengok kebelakang memastikan aku
tidak hilang arah mengikutinya. Sesampai kami ditepi sungai, aku minum dengan
rakusnya. Itu kali pertama ku meminum air sungai rasanya sangat nikmat. “Seger
Bi..” Alvin tersenyum segar menatapku. Aku mengangguk lalu kami tergelak.
Sungai itu begitu jernih, ikan ikan berenang kesana kemari. Aku memastikan itu
bukan ikan piranha (ikan kecil pemakan daging).
Alvin bersiap menangkap ikan satu dua untuk kami santap. Jelas saja
seorang Alvin pasti kesulitan menangkap ikan itu, kalian tahu sendiri apa
alasannya. Beberapa jam baru Alvin berhasil menangkap 3 ikan. Kami membakar dan
melahap begitu sedapnya. Begitulah hari pertama yang kami lalui. Kami tidur
beralaskan daun paling besar yang pernah aku lihat, belakangan aku tahu nama
daun itu Minacata.
Sesaat aku
menilai hutan ini tidak lebih dan tidak kurang sama dengan dunia dibalik pintu
itu. Namun, jika kalian berpikir kami baik baik saja dengan makhluk disana,
jawabannya, TIDAK. Pernah suatu malam aku melihat seseorang mengintip dibalik
semak, kemudian berlari hilang. Saat berlari bayangan putih masih mengikuti
dibelakangnya. Aku bergidik, saat itu Alvin tidur. Aku menggeser badan ku
sedikit lebih dekat dengan Alvin akibat rasa takut. Namun malam-malam
berikutnya makhluk itu tetap terlihat, kadang berwarna kuning, kadang berwarna
hijau. Warna nya menyala indah seperti lampu redup. Alvin pun pernah bercerita
kalau ia juga pernah melihat makhluk itu. Semakin lama makhluk itu terlihat
semakin indah, tidak menakutkan lagi. Mereka bergerak kesana kemari
meninggalkan cahaya aurora.
Banyak keanehan
sekaligus keindahan disini jika aku ceritakan satu persatu tidak akan ada
habisnya. Dan sayangnya, keindahan dan keanehan dunia balik pintu ini bukan
inti dari cerita yang ingin aku utarakan.
Pada waktu itu
kami terus berjalan menyusuri belukar yang berduri, ber “aw aw” ria dengan
tusukan cinta dari semak semak berduri yang kami lalui. Aku terus berpegangan
jaket yang dikenakan Alvin untuk menjaga keseimbangan sekaligus mencegah ia
kabur bersembunyi mengerjaiku seperti yang ia lakukan lalu lalu. Alvin mengibas
ngibas kan tangannya menghindari ranting atau sarang laba laba yang menghalangi
jalan kami. Ada suara menggema seperti suara nyanyian burung yang saling
bersahutan, tapi aku yakin itu bukan burung. Kami berjalan terus, tanpa sadar kami lupa
jalan menuju semak belukar tempat aku dan kalian terpisah. Kami melewati jalan
yang sebelumnya belum pernah kami lalui. Disepanjang perjalanan, kami
membicarakan pasangan kami masing masing. Aku menceritakan tentang Vino, Alvin
menceritakan tentang Mawar. Aku menceritakan segala persiapan pernikahanku
dengan Vino. Sampai sampai kami benar benar tidak sadar jika rumput didepan
kami tidaklah bertanah.
Alvin jatuh
merosot dan terpental di tebing tebing bawah kakiku, aku belum menginjak rumput
tak bertanah itu. Aku mendengar badan Alvin ber’debug’ an dengan kayu kayu dan
tanah. Aku berteriakk sejadinya memanggil nama Alvin, aku benar benar tidak
melihat apapun dibawah sana, hanya mendengar suara erangan kesakitan Alvin. Aku
benar benar ketakutan dan menangis sejadinya, ngeri rasanya membayangkan harus
sendiri bertahan hidup disini. Rumput tak bertanah ini tumbuh tinggi berpuluh
puluh kali lipat lebih tinggi dari pohon kelapa. Rumput ini terus tumbuh sampai
keujung tebing. Aku kembali memanggil Alvin, namun tidak ada sahutan. Perlahan
aku turun menyusul Alvin. Berpegang kuat dengan batu batu dikanan kiriku,
seraya meneriakkan nama Alvin aku terus turun perlahan. Semakin aku turun
kedasar, semakin kurang pencahayaannya, cahaya matahari tidak mampu menerobos
masuk akibat ilalang raksasa ini. Aku kurang tahu pasti dimana posisi Alvin
jatuh pada saat itu. Setelah sampai dasar aku berlari menerobos ilalang ilalang
itu. Sesaat aku mendengar suara kaki melangkah, tentu bukan suara langkahku.
Aku berhenti berlari dan mematung, menerka nerka apa yang akan muncul dibalik
ilalang itu. Alvin kah? Atau makhluk lain? Dan kalian tahu… sosok itu bertubuh
tegap tinggi besar muncul secara bergerombol didepan ku, mereka mengangkat
Alvin yang tak sadarkan diri dengan satu tangan. Secara fisik mereka sama
seperti kita, hanya saja warna rambut mereka berwarna biru. Ada biru tua, dan
biru muda, bahkan ada pula yang biru pupus. Sosok yang mengangkat tubuh Alvin
mengeluarkan suara yang tidak aku mengerti, disusul dua orang yang menarik
kedua tanganku dan diikatkan dibelakang kepala.
Sungguh saat itu
aku ingin pulang, saat itu aku benar benar membenci kalian. Aku berjalan
tersaruk saruk akibat mata yang tertutup, aku berharap Alvin hanya tak sadarkan
diri, tidak lebih. Aku menangkap suara
suara yang terdengar samar. Mulanya terdengar samar, lambat laun suara itu
semakin dekat. Dan saat ini aku merasa berada ditengah pasar. Mereka tetap
menyeretku untuk terus jalan, belok kanan belok kiri tanpa aba aba sampai
sampai kaki ku hamper terkilir. Suara ramai dan berisik itu mulai menghilang.
Singkat kata,
kami digiring masuk ke sebuah pemukiman, saat penutup mataku dilepaskan aku
masih tidak percaya dengan apa yang aku lihat. Aku jelaskan disini pun kalian
tidak akan percaya, kalaupun kalian percaya dan berharap aku akan bercerita
lebih tentang ‘apa yang aku lihat’ saat itu, sungguh membuang buang waktu. Yang jelas, semua dari mereka berambut biru
dan bermata emas. Baju yang mereka kenakan seperti terbuat dari rotan berwarna
putih dan kecoklatan.
Ada satu
diantara mereka yang berambut gelap, mendekatiku dan mengamatiku, lalu berkata
lantang diantara para “rambut biru”. Setelah berpidato panjang diantara makhluk
‘rambut biru’ itu dengan logat astralnya yang sulit aku pahami, mereka semua
mendekatiku dan melepaskan ikatanku seraya melontarkan kata maaf, “Maaf nona,
maaf”
Pasti kalian
kaget, mengapa makhluk aneh itu bisa bahasa kita, aku bahkan seribu kali lebih
terkejut. Seseorang berambut gelap itu belakangan kuketahui bernama Keven.,
menjelaskan semuanya tentang tindakan teman-temannya. Mereka hanya takut,
makhluk asing sepertiku adalah mata mata. Saat itu aku kurang mengerti semua
hal yang Keven jelaskan. Keven lah yang nantinya menjadi kawan baik kami dan
begitu sering membantu kami.
Aku dikawal
masuk ke sebuah ruangan dimana Alvin mendapat perawatan dari mereka. Kondisinya sangat menyedihkan, tulang kaki dan
tangannya patah, bagian kepala ada yang retak. Aku mendekati Alvin, pada bagian
kepala Alviin, mereka mengompres dengan sesuatu yang lebih mirip dengan akar.
Kaki dan tangan Alvin disiram cairan – aku tidak tahu apa itu – oleh seorang
wanita manis berambut biru pupus, sesaat ia menoleh padaku, lalu tersenyum.
Tentu saja mereka semua baik. Mereka merawat Alvin, menjelaskan semua jenis
makanan padaku, menjelaskan macam macam obat yang sulit kuhapal karena terlalu
anehnya. Mengajariku cara bertahan hidup disana, menceritakan segala hal yang
ada disana (makhluk indah berwarna warni itu belakangan aku tahu bernama
Rainbow Fairy). Beberapa betina memuji ketampanan Alvin. Untuk sesaat aku lupa
bahwa aku ingin pulang. Aku mulai menikmati kehidupanku di dunia baru ini.
Makanan baru, kawan baru, kehidupan baru dan cara bertahan hidup yang baru.
Hari-hariku
habis dengan merawat Alvin dan mengajarkan Alvin berjalan. Melelahkan memang,
terkadang Alvin bersikap kurang baik dengan perawat pribadinya, mengesalkan.
Tangannya yang patah dalam beberapa hari tidak dapat digerakkan, jelas saja
untuk masalah makan pagi hingga makan malam ia sangat tergantung padaku. Namun
itu hanya beberapa hari, untuk selanjutnya kami lebih fokus dengan masa
pemulihan kakinya yang patah. Sambil mengajarinya berjalan kami mendatangi
tempat tempat indah, kemudian mengukir nama kalian disana, berharap saat pintu
itu terbuka kembali, kami siap menjadi guide
pribadi kalian. Seolah memberi tanda, tempat inilah yang akan kita kunjungi
nantinya. Dipohon pohon tempat kami singgah, Alvin mengukir nama Mawar kemudian
nama itu ia lingkari dengan bentuk hati. Aku menirunya, mengukir nama Vino dan
melingkari dengan bentuk hati. Alvin merindukan Mawar seperti aku merindukan
Vino. Aku mengancamnya, jika ia tidak hadir dalam acara pernikahanku, jangan
harap aku menganggapnya teman, Alvin hanya terkekeh.
Pernah suatu
malam, Alvin mengeluh panas pada bagian kakinya, mereka bilang itu efek samping
dari obat yang diberikan. Aku mengipasi nya sampai hampir terbit fajar. Aku
menggerutu sesekali mengumpat sambil mengipasi bagian yang terasa panas. Alvin
hanya meringis dan berucapa maaf berkali kali. Saking lelahnya, aku langsung
melempar kepalaku dipinggiran ranjang Alvin yg terbuat dari tumpukan jerami.
Esoknya aku terbangun dalam keadaan berselimut.
Kurang lebih
satu bulanan akhirnya Alvin pulih secara keseluruhan. Oia.. perlu kalian
ketahui, sejak awal kedatangan kami ,
mereka hanya menyediakan satu gubuk untuk kami berdua, itupun gubuk gudang yang
telah dibersihkan. Didalamnya ada satu kamar yang ditempati Alvin, sejak ia
pulih, ia membuatkan kamar perempuan untukku. Cukup perkasa bagi seorang Alvin
yang mampu membangun satu ruangan saja seorang diri. Walau diakhir, dia menggerutu sebab tangan
besarnya tergores paku.
Dan akhirnya,
semua bermula dari sini saat kami semua mengikuti acara Pesta Malam yang Keven
bilang diadakan setiap tahun. Kami bernyanyi dan menari mengitari kobaran api.
Aku ikut bersorak sorai bergandengan dengan para gadis (betina) berambut biru
sambil melompat lompat senang. Beragam makanan asing berjejer di meja di sisi
kanan dan kiri kami. Diujung sana terdapat tumpukan buah berwarna merah
menyala. Bentuknya mirip buat tomat, tapi isinya seperti apa, aku penasaran.
Mereka bilang buah itu akan tumbuh sekali dalam setahun, dan satu satunya
penutup makanan paling dinanti. Aku melihat Alvin berkumpul dengan para jantan
lainnya, belajar memainkan musik, sedangkan dibelakangnya para betina muda
memperhatikannya. Saat Alvin membuka suara untuk bernyanyi, pipi mereka bersemu
merah dengan lucunya. Aku tertawa sendiri melihat tingkah para betina muda.
Di malam puncak
acara Pesta Malam itu, satu per satu makanan sudah kami habiskan. Aku tidak
begitu banyak makan malam itu, tiba tiba saja perutku rasanya sangat tidak
nyaman. Aku pulang kegubuk lebih dulu sebelum acara usai.
Malam hari aku
terbangun, ada suara berisik seperti benda jatuh secara bersamaan. Belum sempat
aku sampai pintu kamarku, seseorang mendobrak masuk ke dalam. Aku terkejut
bukan kepalang. Saat aku melihat Alvin berdiri tepat dipintu kamarku, aku
sedikit lega. Napas Alvin naik turun, badannya basah dengan keringat. Aku
berpikir, apakah pemukiman ini sedang diserang? Samar aku mendengar Alvin
bersuara,”Tolong aku Bi..”. belum sempat aku menanyakan “Ada apa” Alvin maju
beberapa langkah sambil tergesa gesa. Kemudian ia mendorongku kuat hingga
kepalaku terbentur kayu dari atap gubukku yang rendah. Tangannya basah dengan
keringat, nafasnya naik turun dengan cepat, ia memegangi bahuku dengan kuat
sambil menunduk. Lalu Alvin perlahan menatapku, nafasku tercekat. Dia bukan
Alvin. Matanya berwarna hitam pekat, keringatnya terus mengucur dari dalam pori
pori tubuhnya. Aku melepas tangan Alvin dan berteriak berlari hendak keluar
gubuk.
- bersambung-