- Back to Home »
- Midwife
Posted by : Rossy
Selasa, 09 Juni 2015
‘Banyak hal yang membuat kita jatuh cinta pada hidup. Tak akan terukur dan tertakar akal mengapa kita jutaan kali mati dan lahir, seolah tak berakhir. Sesuatu dalam mortalitas ini mengundang kita untuk kembali, dan kembali lagi. Sesuatu dalam dunia materi, jasad, partikel, mengundang jiwa kita menjemput tubuh untuk ditumpangi dan kembali mengalami’.
Dalam keadaan mabuk asmara, kita akan merasa lahir untuk seseorang yang kita cinta. Seorang ibu, dalam puncak kebahagiaannya, akan merasa lahir untuk melahirkan buah hatinya. Sedangkan kita, untuk menyalurkan apresiasi atau apalah itu namanya, kita akan merasa terlahir untuk menjadi seorang midwife. Dan untuk beragam alasan, kita jatuh hati pada hidup dan kehidupan.
Jika midwife adalah intan diantara jutaan pasir. Maka kita adalah berlian diantara ribuan intan.
Jika pertemuan awal kita tiga tahun lalu adalah suatu ‘kebetulan’, apakah pertemuan kedua orang tua kita 21 tahun silam, 30 tahun silam, atau lebih adalah suatu ‘kebetulan’? Sehingga mereka pun menikah dan kita terlahir didunia, dan itu masih suatu ‘kebetulan’? Kemudian kita membaca dengan hati berbunga sederetan nama calon mahasiswa yang lolos uji tulis (sebagian dari kita bahkan menganggap ini kecelakaan), apakah itu suatu ‘kebetulan’?
Itu bukan suatu kebetulan…
Itu takdir…
Pada hakikatnya, tidak ada kebetulan dalam hidup. Tidak ada yang bernama kebetulan. Kita dibagi menjadi tiga kamar pada awal tahun, itu bukan suatu kebetulan, itu takdir. Kita memakai seragam putih-putih, itu telah ditakdirkan. Mungkin ada diantara kita, ditugaskan dalam ruangan di sebuah rumah sakit, kemudian bertemu dengan seseorang yang mungkin akan menjadi imamnya di masa mendatang, itu juga takdir. Bahkan… sebelum sperma ayah bertemu dengan ovum ibu pada 21 tahun silam, Tuhan telah menuliskan takdir kita, Tuhan telah memilih kita. Tuhan telah memanggil.
Midwife…